Rabu, 02 September 2009

TANGGAPAN ATAS KRITIK TERHADAP PENYALIBAN YESUS (2)

PENJELASAN KEMATIAN YESUS :
KEMATIAN KURBAN DAN DARAH PERJANJIAN UNTUK PENGAMPUNAN DOSA



Kematian Yesus bukanlah kematian “martir” yang bermakna “mati demi mempertahankan kebenaran dan bertahan terhadap pemaksaan dari musuh-musuh Tuhan hingga akhir hayatnya”. Seseorang bisa saja menjadi martir “sebagai tanda cinta kepada Tuhan dan kebenaranNya”, sehingga ia dibunuh dalam kemartiran dimana Tuhanlah yang menjadi pusat pembaktiannya.

Namun kematian Yesus adalah KEMATIAN-KURBAN, dimana seseorang merelakan jiwanya sendiri untuk dikorbankan (masih bisa dihindari , tetapi ia merelakan) demi kasih yang begitu besar untuk menyelamatkan jiwa-jiwa orang yang dikasihinya. Inilah sebuah kematian “tukar-guling” yang merupakan “win-win solution” (semua pihak diuntungkan) demi menebus kematian para kekasihnya.

Jenis kematian diatas, total berlandaskan kasih, dan tidak diselewengkan dengan dalil-dalil manusia yang melekatkan kebencian dan dendam atas nama Tuhan atau ‘perjuangan’ :


* 1 Korintus 13:3
LAI TB, Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku.
KJV, And though I bestow all my goods to feed the poor, and though I give my body to be burned, and have not charity, it profiteth me nothing.
TR, και εαν ψωμισω παντα τα υπαρχοντα μου και εαν παραδω το σωμα μου ινα καυθησωμαι αγαπην δε μη εχω ουδεν ωφελουμαι
Translit, kai ean psômisô panta ta huparkhonta mou kai ean paradô to sôma mou ina kauthêsômai agapên de mê echô ouden ôpheloumai


* Yakobus 1:20
LAI TB, sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.
KJV, For the wrath of man worketh not the righteousness of God.
TR, οργη γαρ ανδρος δικαιοσυνην θεου ου κατεργαζεται
Translit, orgê gar andros dikaiosunên theou ou katergazetai


Qur’an tampaknya tidak mengenal kematian kurban, dari situlah dapat kita pahami seringkali kita mendapat pertanyaan-pertanyaan atau bahkan serangan-serangan yang memojokkan, tuduhan bahwa Yesus tidak mungkin mati disalib. Namun jika Anda jeli sesungguhnya QS 19:33 tersurat nubuat Yesus (Isa) akan kematian kurban bagi dirinya dan kebangkitannya.

Kematian kurban itu sudah dinubuatkan dalam Perjanjian Lama dalam Yesaya 52:13 sampai dengan Yesaya 53:1-12 dengan judul perikop HAMBA TUHAN yang MENDERITA. Dituliskan tentang kedatangan seorang Hamba yang akan berkorban, dinubuatkan sejak awal bahwa Ia akan menderita, dihina, dianiaya dan mati sebagai korban tebusan bagi umat yang seharusnya dihukum mati karena dosa-dosanya.


Ia sendiri berkata dalam :


* Lukas 24:26
LAI TB, Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?
KJV, Ought not Christ to have suffered these things, and to enter into his glory?
TR, ουχι ταυτα εδει παθειν τον χριστον και εισελθειν εις την δοξαν αυτου
TR, oukhi tauta edei pathein ton khriston kai eiselthein eis tên doxan autou


Jadi, berlainan dengan martir, kematian Yesus tidak ada hubungannya dengan emosi, kebencian atau karena iming-iming mendapat upah surgawi malainkan justru bertujuan membayar harga tebusan yang dapat langsung menyelamatkan jiwa umatNya. Dan kematian-kurban ini dinyatakan dalam perkataan Yesus sendiri :


* Yohanes 10:11,17-18
10:11 Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya
10:17 Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali.
10:18 Tidak seorang pun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku.



Artikel terkait :
Kematian Martir dan Kematian Kurban , di :
kematian-martir-dan-kematian-kurban-vt475.html#p931


Top
Profile

BP
Post subject:
PostPosted: Thu Aug 24, 2006 9:46 am
Offline
Merdeka dlm Kristus
Merdeka dlm Kristus
User avatar

Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
Posts: 5497
I. KISAH PARA NABI SEGALA ZAMAN



Jika Qur’an hanya mampu menyangkal kematian Yesus dengan 1 ayat saja yaitu di QS 4:157:

"dan karena ucapan mereka: "Sesungguhnya Kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah", padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa,benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa."


Namun ada banyak ayat Qur’an yang justru mencatat kematian Yesus, malah di surat 19:33 kematianNya dan kebangkitanNya diakui! :

QS 19 : 33 : Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali"..

QS 19 : 15 :
Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan dan pada hari ia meninggal dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali

QS 3 : 55 :
(Ingatlah), ketika Allah berfirman: "Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku ……

QS 4:159
Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya ('Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari kiamat nanti 'Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.

QS 5:117
Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu: "Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu", dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.


Maka ayat dalam surat 4:157 hanyalah klaim tanpa bukti dan saksi, sebaliknya ayat tersebut kontradiksi dengan ayat-ayat lainnya.

Pembuktian kematian Yesus disalib serta kebangkitanNya, tidak terkira kokohNya, internal maupun external. Itu sudah banyak sekali ditulis oleh para ahli tanpa ada sanggahan yang layak. Dan bukti yang akan kita kupas dibawah ini akan menambah extra, yang akan memberi perspektif baru kepada saudara Muslim yang mempersoalkan kematian dan kebangkitan Yesus. Sebab kematian-kurban memang exist bagi Mesias, dan itu bukan bikinan atau diada-adakan oleh manusia. Ia sungguh telah dijanjikan Tuhan dari Firman yang keluar dari mulutNya dan/atau dari tanganNya sendiri dan diteruskan turun-temurun sejak manusia-pertama!.

Lihat, Adam dan Hawa dikala itu masih dalam kenaifan budaya alam flora dan fauna. Keduanya tentu tidak bisa memahami apa itu ‘kematian kurban’. Maka, Tuhan harus mengkomunikasikannya secara bertahap dalam konsepsi, dengan ilustrasi, dan ‘perlambangan darah’ yang harus ditumpahkan sebagai kurban penebus dosa. Dan sejak itu, Tuhan terus berjanji kepada manusia akan hal-hal yang sama dari zaman-ke-zaman lewat nabi-nabiNya.



1. Kisah zaman Adam


Simaklah kitab Kejadian 3:15 dimana Tuhan berkata kepada iblis dalam ungkapan yang visioner, dan karenanya harus dipahami secara visioner pula :


* Kejadian 3:15
LAI TB, Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.
KJV, And I will put enmity between thee and the woman, and between thy seed and her seed; it shall bruise thy head, and thou shalt bruise his heel.
Biblia Hebraic Stuttgartensia (BHS), Hebrew with vowels,
וְאֵיבָה ׀ אָשִׁית בֵּֽינְךָ וּבֵין הָֽאִשָּׁה וּבֵין זַרְעֲךָ וּבֵין זַרְעָהּ הוּא יְשׁוּפְךָ רֹאשׁ וְאַתָּה תְּשׁוּפֶנּוּ עָקֵֽב׃ ס
Translit, VE'EIVAH ASYIT BENKHA UVE'IN HAISYAH UVE'IN ZARAKHA UVE'IN ZARAH HU YESYUFKHA ROSY VE'ATAH TESYUFENU 'AQEV



Keturunannya (akhirnya Yesus), akan meremukkan kepalamu (mengalahkan total), dan engkau akan meremukan tumitnya (melukainya).

Tampak sejak awal di Taman Eden, kepada Adam dan Hawa, telah dijanjikan Allah akan datangnya satu sosok Mesias yang akan menyelamatkan keturunannya dengan mengalahkan kuasa iblis (meremukkan kepalanya), namun dengan pengorbanan fisiknya (berdarah, remuk tumitnya). Ini adalah janji besar dari mulut Tuhan sendiri, janji ini sayangnya tidak ditemukan dalam Qur’an.

Tidak cukup janji di mulut, Allah masih melanjutkannya dengan ujud-tindakan, yang tentu masih bersifat perlambangan visioner yang jauh ke depan. Hal tersebut bisa kita temukan pada ayat ke 21 :


* Kejadian 3:21
LAI TB, [color=green]Dan TUHAN Allah membuat pakaian dari kulit binatang untuk manusia dan untuk isterinya itu, lalu mengenakannya kepada mereka
KJV, Unto Adam also and to his wife did the LORD God make coats of skins, and clothed them
Hebrew,
וַיַּעַשׂ יְהוָה אֱלֹהִים לְאָדָם וּלְאִשְׁתֹּו כָּתְנֹות עֹור וַיַּלְבִּשֵֽׁם׃ פ
Translit, VAYA'ASYO YEHOVAH 'ELOHIM LE'ADAM 'ULEISYITO KATNOT 'OR VAYALBISYEM


Tampak bahwa Allah melakukan sebuah penganugerahan kasih kepada Adam dan hawa dengan membuatkan cawat kulit binatang untuk menutupi ketelanjangan (dosa) mereka. Allah sendirilah yang berinisiatif menggantikan cawat daun-daunan yang dibuat oleh Adam dan Hawa bagi diri mereka (Kejadian 15:7), dikala Ia baru “terluka hatiNya” oleh dosa pelanggaran Adam! Bukankah itu meripakan suatu demonstrasi kasih Allah yang luar biasa besar?.

Allah tidak berkenan dengan cawat dari daun itu, karena hal yang amat prinsip. Cawat daun ‘made-in Adam-Hawa’ itu tidak absah dimata Tuhan karena itu lambang usaha diri manusia untuk menutupi ketelanjangan dosa mereka.
Manusia tidak bisa mengusahakannya, dengan amal apapun! Keadilan dan kekudusan Allah tidak membiarkan suatu dosa/kejahatan untuk dihapus oleh 1000 pahala. Satu kejahatan perkosaan misalnya, tetap harus dihukum, sekalipun si pemerkosa telah mendermakan bangunan 1000 rumah ibadah!

Cawat daun-daun penutup itu hanya maya, khayalan manusia yang tidak bertahan dan sia-sia. Hanya cawat kulit “made-in Allah” yang secara hakiki mampu menutup/ menebus dosa manusia!
Perhatikan, bahwa Qur’an sesungguhnya juga berbicara tentang cawat made-in Adam “Lalu keduanya memakan (buah pohon itu) maka kelihatanlah auratnya. Dan keduanya mulai menutupi dari daun-daun surga” (QS 20:121). Namun entah mengapa Qur’an mengosongkan apa yang justru jauh lebih essensial dari daun, yaitu ‘cawat kulit made-in Allah’.

Yang menjadi pertanyaan yang tak terhidari : “Apakah Alkitab ataukah Al-Qur’an yang mewahyukan berita yang asli?”. Mungkinkah tentang ‘cawat made-in Allah’ ini sengaja dipalsukan (ditambahkan) kepada Alkitab sejak ribuan tahun sebelum Muhammad, ataukah Qur’an yang sengaja mengosongkannya dengan alasan “mengkoreksinya”? Agaknya salah satu harus siap divonis sebagai keliru: yang “menambahi” atau yang “mengosongi”.

Kulit binatang muncul dari penyembelihan binatang. Ada kematian berdarah disini yang diperkenalkan Tuhan untuk pertama kalinya, yaitu suatu simbol ‘korban-darah’ untuk “cawat penutup dosa”.
Korban darah binatang ini telah memvisualisasikan sebuah analogi konsep kematian & penebusan yang dirancang Allah demi menyelamatkan Adam-Hawa serta keturunannya.
Hukum Musa berkata “Nyawa makhluk ada dalam darahnya… dan tanpa penumpahan daran (korban) tak ada pengampunan” (Imamat 17:11, Ibrani 9:22). Sebab penutupan/ penghapusan dosa manusia tidak bisa dilakukan oleh ‘cawat daun usaha sendiri manusia’ melainkan hanya oleh kasih-karunia Allah lewat kematian Sang Mesias sebagai korban penebusan.


-----


2. Kisah di zaman Abraham


Kisah dari pengorbanan anak Abraham yang berakhir dengan penebusan kematiannya melalui seekor domba jantan, dicatat dengan lurus dalam Kejadian 22:8 dan 13
“Tuhan yang akan menyediakan
anak domba untuk korban bakaran bagiNya”
“Abraham memanggil domba itu, lalu mengorbankannya sebagai
korban bakaran pengganti anaknya”

Sama dengan absen-nya identitas Isa gadungan di kayu salib, disini Al~Qur’an kembali tidak menjelaskan siapa anak Abraham itu, dan lebih gawat lagi, mengosongkan apa makna hakiki dari kisah yang dasyat ini!.
Bagaimana duduk perkaranya?. Ya, mungkinkah Allah mendadak menyuruh seorang bapak yang sangat saleh untuk membunuh anaknya? Dosa apakah yang dilakukan si-anak sehingga ia layak dibunuh?. Ada apakah dibalik teka-teki yang misterius bahkan tak masuk akal ini?, menguji iman-kah? Oke, Tetapi tentu Allah tidak kehabisan cara menguji sehingga harus terpaksa memilih cara yang melawan hukumNya?.

Allah sendiri telah melarang pembunuhan dan pengorbanan darah anak (yang sering dilakukan orang kafir (Imamat 18:21), mungkinkah Allah tiba-tiba justru menyuruh Abraham untuk berbalik membunuh? Dalam sebuah pembunuhan keluarga nabi?.

Banyak teman-teman Muslim beranggapan bahwa kisah ini hanya menyangkut ujian kepada Ibrahim, dengan anggapan yang hanya sebatas demikian. Mereka tidak mampu menghilangkan antagonisme yang dimunculkan Allah. Mereka belum menyadari bahwa itu adalah suatu penggambaran dasyat akan sebuah konsep penebusan yang dijanjikan Tuhan bagi manusia, yang diperagakan lewat sebuah tamsil dimana sang kurban (anak-domba) perlu dibunuh demi menebus sang anak (anak Abraham) demi keadilanNya. Tuhan memang mengharuskan semua orang yang berdosa dihukum mati (Roma 6 : 23). Dan orang-orang berdosa itu diibaratkan sebagai anak-Abraham yang harus disembelih, tetapi diselamatkan Tuhan dengan tebusan Anak Domba Allah yaitu Yesus Kristus . Agar perlambangannya tidak salah, maka Nabi Yahya (Yohanes pembabtis) diutus untuk mengkonfirmasikan hal tersebut ketika Yesus secara fisik datang menghampirinya :


* Yohanes 1:29
LAI TB, Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: "Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia."
KJV, The next day John seeth Jesus coming unto him, and saith, Behold the Lamb of God, which taketh away the sin of the world.
TR, τη επαυριον βλεπει ο ιωαννης τον ιησουν ερχομενον προς αυτον και λεγει ιδε ο αμνος του θεου ο αιρων την αμαρτιαν του κοσμου
Translit interlinear, tê epaurion {pada hari yang berikut} blepei {ia melihat} iôannês {Yohanes} ton iêsoun {Yesus} erKhomenon {datang} pros {kepada} auton {dia} kai {dan} legei {berkata} ide {inilah} ho amnos {Anak Domba} tou theou {Allah} ho airôn {yang menanggung/ menyingkirkan} tên hamartian {dosa} tou kosmou {dunia}


Sungguh konsep penebusan ini sudah dilukiskan juga dalam QS 38:107 dengan penggambaran yang sesuai, yaitu satu “kurban yang besar/agung” bagi tebusan sang anak! Namun kejelasan konsep ini terhalang oleh terjemahan/ tafsiran yang apriori menjuruskan makna “kurban” itu kepada pengertian yang amat sempit, dipatok menjadi “seekor binatang sembelihan”, padahal wahyu aslinya samasekali tidak memuat teks kata-kata seperti itu.
Bandingkan dengan kritis sejumlah terjemahan berikut ini :

• “Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar” (terjemahan depag)
• “Dan Kami menebusnya dengan sembelihan yang besar” (terjemahan Disbintalad)
• “We ransomed his son with a noble sacrifice” (satu/ sebuah kurban agung/ mulia, terjemahan NJ. Dawood)
• “And We ransomed him with a mighty sacrifice” (sebuah kurban perkasa, terjemahan Arberry)
• “Then We ransomed him with a tremendous victim” (sebuah kurban yang dasyat, terjemahan Mohammed Pickthall)
• “An we ransomed him with a great sacrifice” (kurban yang besar/hebat, terjemahan Yusuf Ali).



Itu adalah gambaran sebuah konsep penebusan, yang datang secara vertical dari atas ke bawah (dari Tuhan bagi anak-anakNya), dengan korban yang amat besar nilainya (dasyat). Sedemikian besar korban itu sehingga pewahyuan Qur’an sengaja memakai kata Asli yang sama dengan satu diantara 99 nama/ asma Allah, yaitu Al-Azhim (Yang Maha Agung) :

“Wa fa dainaahu bi dzibhin ‘azhiim” (QS 37:107)


Jadi konteks dan makna kisah dan ayat-ayat tersebut sebenarnya tidak ada hubungannya sama sekali dengan pemberian sedekahan dari manusia bagi sesamanya (yang bersifat horizontal) pada hari raya Kurban/Haji. Tuhan sendiri secara “vertical dari atas” yang menyediakan (meng-anugerahkan) tebusan keselamatanNya kepada manusia, dan bukan manusia Abraham yang mengusahakannya (kembali sama dengan analogi penebusan dari ‘cawat kulit’ made-in Allah: Sebuah anugerah, bukan cawat daun yang diusahalan Adam). Teman-teman Muslim akan mendapat pencerahan apabila bertanya 3 hal sederhana berikut ini :


(a) Apa perlunya sang-anak itu disebut oleh Allah?


Bila Tuhan hanya ingin menguji iman Ibrahim (yang toh sudah diketahuiNya), Allah cukup melepaskan anaknya tanpa usah tebusan kurban. Ujian iman telah berakhir pada waktu malaikat berseru kepada Ibrahim “STOP, jangan bunuh anakmu”


(b) Dan Mengapa Allah memerlukan kematian kurban?


Pakar Islam sulit menjawabnya dari sumber Qur’an, kecuali mendalilkannya secara logis tanpa dapat membuyarkan antagonisme dan misteri inti : “Mengapa Allah sampai memilih memerintahkan sebuah pembunuhan keluarga nabi?”
Itulah kematian kurban, ini adalah gambaran analogis dari kematian seorang AL-MASIH, yang diperlukan sebagai KURBAN-PENEBUS (untuk mengganti) kematian yang harus dikenakan kepada setiap manusia (karena semua manusia itu berdosa). Sebab Hukum Keadilan Tuhan tetap berkata tanpa pandang bulu bahwa setiap manusia berdosa harus dihukum mati (Roma 6:23); Namun HUKUM KASIH dari Tuhan kini dapat berkata “Anak Manusia memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Matius 20:28 ).

Teologi Islam tidak berdaya menjawab pertanyaan, bagaimanakah Allah SWT itu dapat Maha Adil (yang harus menghukum), padahal Ia juga Maha Kasih (yang akan mengampuni)?. Dapatkah Allah mengampuni seseorang tanpa memperkosa hakekat diriNya yang Maha Adil?

Ketika Allah tidak menghukum karena kasihNya, Tuhan menjadi non-Adil; dan ketika menghukum karena AdilNya, Allah menjadi non-Kasih. Ketegangan (kontradiksi) ini hanya mungkin direkonsiliasikan dalam kematian-kurban sebagai Penebus – pembayar harga kematian – yang mempertemukan Keadilan Allah dengan kasih Allah. Kini, Ia tetap Maha Adil ketika mengampuni dalam kasihNya, karena Tuhan sendiri telah membayar harga keadilan itu lewat kematian Al-Masih, Kalimatullah yang diinkarnasikan kedalam dunia!.]



(c) Dan bila tebusan bagi sang-anak, mengapa si-penebus (binatang) justru dianggap bernilai sangat “agung-mulia” ketimbang yang ditebusnya (manusia)?.


Tidak ada jawaban selain 2 kemungkinan :
Pertama, kalau kita rela dibohongi dengan pelbagai terjemahan/tafsiran yang tidak lurus.
Kedua, kecuali si-penebus itu adalah benar Sang-penebus!

Itulah kematian-kurban yang benar-benar dasyat, mulia, agung, perkasa, pemenang, seperti yang kita bicarakan dimuka. Sebab seberapakah besar dan dasyatnya kurban kita, jikalau itu hanya terbatas pada pemberian sedekah di hari-raya?
Kurban semacam ini tidak mempunyai nilai-tebusan (atoning value), kecuali nilai sosial religi.


-----


3. KISAH DI ZAMAN MUSA


Rupa-rupanya kisah Taurat tentang konfrontasi Musa melawan Firaun adalah topik favorit yang dicatat di Al~Qur’an. Begitu favoritnya sehingga Al~Qur’an berlulang-ulang hingga 27kali!. Meski demikian, tidak sekalipun didalamnya dicatat peristiwa yang paling inti dari kisah keluaran dari Taurat Musa ini, yaitu kisah Paskah!. Padahal [http://www.sarapanpagi.org/hari-raya-paskah-pesakh-vt1920.html#p8730]perayaan Paskah[/url] adalah event yang paling bersejarah, menyentuh dan heroik bagi setiap orang Yahudi, yang dijadikan legenda untuk dikisahkan kepada anak-cucu Yahudi turun-temurun. Lebih dari itu Paskah wajib dirayakan setiap tahunnya, dengan segala [http://www.sarapanpagi.org/hari-raya-paskah-pesakh-vt1920.html#p8730]tata cara perjamuan yang dibakukan![/url]. Dengan absent-nya kisah Paskah dalam pewahyuan Al~Qur’an, tidak heran bahwa orang-orang Yahudi di Mekkah atau Medina tidak dapat mengakui Muhammad sebagai nabi utusan Tuhan. Sebab bagi mereka, mustahil Allahnya Muhammad ini sampai 27kali lupa mengkisahkan inti kisah Keluaran dalam 27kali pewahyuanNya tentang perseteruan Musa dengan Firaun!. Padahal Tuhan sendirilah yang memerintahkan kisah ini agar tertanam dalam ingatan turun temurun dalam Perayaan perjamuan Paskah setiap Tahun!

Seperti diketahui, kisah Paskah mulai dengan tulah yang ke-10 (dan Qur’an hanya mencatat total 9 tulah), dimana Tuhan mendatangkan malapetaka terbesar dengan mengirimkan malaikat kematian untuk mencabut nyawa anak-sulung dari setiap keluarga yang pintu rumahnya tidak diperciki darah domba!

Allah berkata :
“Apabila Aku melihat darah itu, maka Aku akan lewat”. Itu dalah vonis kematian yang dilewatkan Tuhan (luput) bagi rumah yang bertanda darah kurban (Keluaran 12:13). Kisah lengkapnya, silahkan baca di Kitab Keluaran pasal 11 dan 12.

Dan Alkitab menjelaskan kepada kikta bahwa “semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang” (Kolose 2:17), yaitu janji penebusan malalui darah Yesus Kristus.


-----


4. KISAH DI ZAMAN DAUD


Kita bisa menanyakan kepada teman-teman Muslim, apa yang mereka ketahui mengenai Kitab Zabur (Mazmur) yang harus diimaninya. Qur’an memang mencatat Daud membunuh Jalut (Daud vs Goliat) tanpa menerangkan kejadiannya. Juga menyebutkan bahwa karunia-karunia yang diberikan Allah kepada Daud, termasuk suara merdu dan pandai bertasbih hingga besi-besipun menjadi lunak dibuatnya. Tetapi apakah ini isi kitab Zabur yang Islami? Yang Allah turunkan kepada Daud, dengan maksud untuk diimani umatnya?. Tetapi apa relevansinya Zabur yang harus diimani, bila janji dan ajaran Allah yang diturunkan lewat nabi Daud itu praktis tidak dikenal oleh Muslim?

Kitab Mazmur telah berumur sangat tua, diteruskan hingga ke zaman Yesus dan murid-muridNya, yang Ia sendiri sering mengutipnya. Diteruskan lagi hingga ke zamannya Muhammad dan selanjutnya tidak ada yang berubah atau menggantikan teks-nya.
Kitab Mazmur tidak berisi kisah perang Daud vs Goliat seperti yang diangap teman-teman Muslim, itu ada dikitab lainnya, Kitab Nabi Samuel. Tetapi Mazmur yang berisi 150pasal, adalah kumpulan mazmur doa dan permuhonan, pujian dan nyanyian ucapan syukur, ratapan dan pengakuan dosa, mazmur hikmah dan pengajaran dan lainnya, serta mazmur Mesias dengan makna nubuat!.

Tanpa kesadaran akan apa yang terucap dari mulutnya, namun Roh Allah telah menuntun Daud bernubuat rinci segala pernik kejadian yang akan dijalani oleh seorang Mesias yang akan disalibkan demi membebaskan umatNya. Mesias ini akan megalami penghinaan, penganiayaan, “penusukan di tangan dan kaki” (istilah nubuat Daud untuk penyaliban), dan mengalami kematian dan ditinggal oleh Roh Allah, namun juga mengalami kebangkitannya dari kematian!
Semuanya itu secara ajaib tergenapi oleh Yesus Sang Mesias 1000tahun sesudahnya (lihat Mazmur pasal 2, kemudian pasal 8, 16, 40, 41, 45, 68, 69,89, 102, 110, 118 )


khususnya di

* Mazmur 22:2,7,8,17,19)
22:2 Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? Aku berseru, tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku.
22:7 Tetapi aku ini ulat dan bukan orang, cela bagi manusia, dihina oleh orang banyak.
22:8 Semua yang melihat aku mengolok-olok aku, mereka mencibirkan bibirnya, menggelengkan kepalanya:
22:17 Sebab anjing-anjing mengerumuni aku, gerombolan penjahat mengepung aku, mereka menusuk tangan dan kakiku.
22:19 Mereka membagi-bagi pakaianku di antara mereka, dan mereka membuang undi atas jubahku.


Bahkan teriakan ungkapan-kematian Yesus diatas kayu salib-pun, terhadi persis seperti yang telah dinubuatkn oleh daud “ÊLI ÊLI LAMA SABAKHTHANI?”.
Itu adalah suatu pelukisan kematian-kurban yang tidak terhapuskan oleh klaim dan koreksi dari ayat Kitab Suci manapun! Akhirnya, Tuhan konsekwen menyerukan model penghakiman yang berlandaskan analogi-penebusan :


Mazmur 50:5
LAI TB, Bawalah kemari orang-orang yang Kukasihi, yang mengikat perjanjian dengan Aku berdasarkan korban sembelihan!
KJV, Gather my saints together unto me; those that have made a covenant with me by sacrifice.
Hebrew,
אִסְפוּ־לִי חֲסִידָי כֹּרְתֵי בְרִיתִי עֲלֵי־זָֽבַח׃
Translit, 'ISFU-LI KHASIDAY KORTEI VERITI 'ALEY-ZAVAKH


-----


5. KISAH DI ZAMAN YESAYA


Ada satu kabar baik bagi teman-teman Muslim yang belum tahu akan sosok Nabi Yesaya yang pernah hidup 700tahun sM. Tuhan “menurunkan” kepadanya sebuah kitab yang paling terkenal dengan nubuat-nubuat yang terbukti benar. Bahkan apda awal mula pelayanan Yesus, kitab inilah yang dibacakan Yesus di sebuah Rumah-Ibadah. Disitu Yesus memilih membaca Yesaya pasal 61 dimana terdapat ayat-ayat istimewa yang menubuatkan tentang diriNya!. Nas ayat itupun dibenarkanNya secara langsung bagi diriNya, bukan bagi orang lain :


* Lukas 4:16-21
4:16 Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab.
4:17 Kepada-Nya diberikan kitab nabi Yesaya dan setelah dibuka-Nya, Ia menemukan nas, di mana ada tertulis:
4:18 "Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku
4:19 untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang."
4:20 Kemudian Ia menutup kitab itu, memberikannya kembali kepada pejabat, lalu duduk; dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya.
4:21 Lalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya: "Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya."


Hal tersebut sekaligus menggugurkan klaim Muhammad bahwa namanyalah yang ada tertulis dalam taurat dan Injil (QS 7:157). Keistimewaan Kitab Yesaya ini bertambah, ketika dunia sempat dikagetkan pada thaun 1947 dengan enemuan utuh dari salinan naskah kuno Kitab Yesaya dalam gulungan naskah Dead Sea Scrolls di Qumran, yang berpenanggalan sekitar 150tahun sM!.
Maka, naskah yang begitu kuno ini segera dipakai untuk men-test kalau-kalau ada kesalahan salinan atau bahkan pemalsuan pada salinan kitab Yesaya yang sudah kita punyai selama ini. Ternyata penemuan ini saling bersesuaian dan membernarkan keontetikan teks yang telah ada!. Tak ada tangan-tangan usil yang menjahili teks Alkitab seperti yang dituduh.

Selain pasal 61 yang ayatnya sempat dibacakan oleh Yesus, juga ditemukan gulungan kitab Yesaya pasal 53, yang secara paradoxal mencatat berbagai janji dan nubuat Tuhan tentang seorang Hamba yang menderita sampai mati, namun menjadi pendamai dan penyelamat bagi umat manusia yang jahat. Hamba ini bahkan tercatat akan bangkit kebali dengan segala “hadiah” kemenanganNya! Kedengarannya seperti tidak masuk akal, itulah sebabnya pewahyuannya dimulai dengan bahasa skeptis “siapakah yang percaya berita (wahyu) yang kami dengar..?” (Yesaya 53:1)

Disini kita persingkat jumlah pembuktiannya dengan cukup mengutip 3 ayat saja :


* Yesaya 53:5,9-10
53:5 Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.
53:9 Orang menempatkan kuburnya di antara orang-orang fasik, dan dalam matinya ia ada di antara penjahat-penjahat, sekalipun ia tidak berbuat kekerasan dan tipu tidak ada dalam mulutnya.
53:10 Tetapi TUHAN berkehendak meremukkan (tumitnya*) dia dengan kesakitan. Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah, ia akan melihat keturunannya, umurnya akan lanjut, dan kehendak TUHAN akan terlaksana olehnya


bandingkan dengan Kejadian 3:15 :

LAI TB, Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.
KJV, And I will put enmity between thee and the woman, and between thy seed and her seed; it shall bruise thy head, and thou shalt bruise his heel.
Hebrew,
וְאֵיבָה ׀ אָשִׁית בֵּֽינְךָ וּבֵין הָֽאִשָּׁה וּבֵין זַרְעֲךָ וּבֵין זַרְעָהּ הוּא יְשׁוּפְךָ רֹאשׁ וְאַתָּה תְּשׁוּפֶנּוּ עָקֵֽב׃ ס
Translit, VE'EIVAH 'ASYIT BENKHA UVE'IN HAISYAH UVE'IN ZARAKHA UVE'IN ZARAH HU YESYUFKHA ROSY VE'ATAH TESYUFENU 'AQEV


Semua “kemustahilan” teks nabi Yesaya yang rumit yang digaris-bawahi ini terbukti benar pada kehidupan dan kematian Yesus 700-an tahun kemudian!. Naskah tua Qumran dari 7.5 abad sebelum Muhammad sengaja dipakai Tuhan di Abad ke-20 untuk sekali-lagi membenarkan nubuat Yesaya tentang kematian kurban seorang Mesias. Bila begitu dasyatnya kebenaran yang satu ini, alasan apa dan untuk apa kita harus mati-matian menafikannya?


-----


6. KISAH DI ZAMAN NABI YAHYA (YOHANES PEMBABTIS)


Ada 6 pertanyaan dasar dan penting, ditujukan kepada teman-teman Muslim yang sering mengkritisi Alkitab :

(a) Adakah mereka pernah berpikir sejenak apa peran Nabi Yahya seutuhnya dalam versi Qur’an?

(b) Mengapa Nabi itu ditempatkan Tuhan sekurun-zaman dan seladang-pelayanan dengan Yesus, yang sama-sama menyampaikan Firman Tuhan dan mendapatkan para pengikutnya yang berbeda?

(c) Bergunakah misi kenabian Nabi Yahya (atau Yesus) ditengah-tengah kenabian Yesus (ayau Yahya)?. Apakah misi keduanya tidak mampu disedot dan diemban satu nabi saja?

(d) Apakah Tuhan begitu tidak efisien kerjaNya sehingga harus mengutus 2 Nabi besar sekaligus dalam kurun angkatan yang sama, sekaligus keduanya menuai kematian secara sia-sia dan terkesan kalah terhadap musuh-musuh Tuhan (versi opini Muslim)?

(e) Bila versi Qur’an sebaliknya dari kesan-kesan ini, bagaimana caranya menerapkan dari sumber-sumber Islam sendiri bahwa misi kenabian Isa dan Yahya itu berkemenangan kedua-duanya?

(f) Bagaimana menafsir Islam menggambarkan peran Jibril, yang harus membagi dirinya diantara diri Isa (yang selalu diperkuat Jibril) dan diri Yahya (yang bersama-sama Isa harus meneruskan wahyu Jibril kepada angkatan yang sama). Dapatkah Jibril maha-ada, di Isa dan di yahya pada saat yang sama?.


Tidak mudah bagi teman-teman Muslim mana-saja untuk menjawab pertanyaan dasariah diatas. Mengapa? Karena Qur’an justru mengosongkan 2 kesaksian penting untuk apa nabi Yahya diutus khusus sekurun waktu dan sepelayanan dengan Yesus! (lihat dibawah ini).

Namun Alkitab tidak mempunyai kesulitan sedikitpun untuk menjawab misteri diatas. Juatru kehadiran Yohanes yang sekurun waktu dengan Yesus merupakan pertanda Tuhan akan betapa maha-penting dan vitalnya sosok pelayanan Yesus sehingga perlu didampingkan tambahan satu nabi besar lainnya.

Seperti yang diakui Nabi Yahya (Yohanes Pembabtis) sendiri bahwa ia bukan Mesias namun diutus mendahuluiNya untuk menjadi corong suara yang meluruskan dan mempersiapkan jalan bagi pengenalan jati-diri Yesus Sang Mesias dan misiNya : “Ditengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal”

Rasul Yohanes memperkenalkan Sang Mesias lewat pewahyuan yang paling unik (Yohanes pasal 1).
[Disini, bukan Jibril membagi dirinya diantara diri Isa dan Yahya (yang sama-sama harus menyampaikan wahyu Jibril kepada angkatan yang sama), melainkan Roh Kudus]

Dengan peran khusus Nabi Yahya (Yohanes Pembabtis) dan posisi sentralnya yang dinyatakan sebagai nabi terbesar (Yohanes 7:26), sedikitnya itu berarti bahwa dialah bukti dan saksi Ilahi yang paling tinggi di dunia ini bagi Yesus sebagai Mesias. Maksudnya, ia diberi hak istimewa oleh Tuhan untuk mengidentifikasi jati-diri Sang Mesias dengan tanda-ilahi(!) yaitu Roh Kudus (seperti merpati) yang terlihat turun kepada sosok-fisiknya Yesus Sang Mesias. Dengan demikian, Yohanes menjadi saksi mata yang paling shahih, dekat dan langsung “menunjuk hidung” ke sosok Mesias, tanpa usah khawatir akan kesalahan dan kekeliruan sosok akibat rentang generasi dimuka (seperti halnya dengan nabi-nabi lainnya) baru kemudian bisa dicocok-cocokkan lagi nubuatnya oleh gererasi belakang dengan memberi peluang tafsiran yang bisa salah sosok. Yohanes sebagai penunjuk-hidung yang paling absah, memberi 2 kesaksian yang penting bagi kemanusiaan dalam :


Satu, "Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal di atas-Nya (Yesus). ….aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah". (Yohanes 1:32-34)

Dua, "Lihatlah (Dia) Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia" (Yohanes 1:29)

Perhatikan dua kata-saksi langsung kepada Mesias. Right now and here “inilah” dan “lihatlah”. Dua penyaksian yang berotoritas ini menunjukkan lurus kepada penyaliban Yesus sebagai Anak Allah yang menjadi kurban-tebusan bagi umat manusia.

-----


7. Hardikan Yesus membuktikan Ia menjalani “kematian kurban”


Apakah maksud Yesus ketika Ia berkata dalam Perjamuan Malam TerakhirNya : “Sebab apa yang tertulis tentang Aku sedang digenapi” (Lukas 22:37). Itulah kenyataan seperti yang dikupas dalam 6 kisah-kisah diatas, yang seluruhnya merujuk kepada Yesus dalam kematian-kurbanNya! Bila pernyataan tersebut ditolak, maka Yesus tidak akan segan menghardik si penolah itu dengan kata-kata yang terkeras “Enyahlah iblis!”

Yesus menyebut “Enyahlah iblis!” tidak peduli orang tersebut adalah MuridNya sendiri, tidak peduli bahwa murid ini (atau orang-orang yang mengaku-ngeku menghormatiNya) sesungguhnya bermaksud baik karena tidak menginginkan suatu mati terkutuk disalib itu menimpa diriNya. Simaklah apa yang dilakukan Petrus sesungguhnya beritikat baik bahi Gurunya :


* Matius 16:21-23 PEMBERITAHUAN PERTAMA TENTANG PENDERITAAN DAN SYARAT-SYARAT MENGIKUT DIA
16:21 Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.
16:22 Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau."
16:23 Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: "Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia."


Ya, bagi Yesus, menampik kematian-kurbanNya adalah menampik perjanjianNya yang paling awal, rancanganNya yang universal, dan karyaNya yang paling mahal yang dapat dibayarkanNya bagi umat manusia. Yesus berkata :


* Matius 26:28
LAI TB, Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa.
KJV, For this is my blood of the new testament, which is shed for many for the remission of sins.
TR, τουτο γαρ εστιν το αιμα μου το της καινης διαθηκης το περι πολλων εκχυνομενον εις αφεσιν αμαρτιων
Translit interlinear, touto {inilah} gar {sebab} estin {adalah} to haima {darah} mou {-Ku} to tês kainês {yang baru} diathêkês {perjanjian} to {yang} peri {bagi} pollôn {banyak orang} ekkhunomenon {ditumpahkan} eis {untuk} aphesin {pengampunan} hamartiôn {dosa-dosa}


Top
Profile

BP
Post subject:
PostPosted: Thu Aug 24, 2006 9:48 am
Offline
Merdeka dlm Kristus
Merdeka dlm Kristus
User avatar

Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
Posts: 5497
II. “NUBUAT ADIKODRATI” KEDEPAN VS “JEJAK KAKI” KEBELAKANG



Ucapan nubuat yang tercatat, sekali ia tergenapi, adalah merupakan bukti-adikodrati yang paling kokoh yang harus dipercaya. Nubuat – dan bukan mujizat – merupakan testing yang paling absah akan keberanarn suatu wahyu? Mengapa? Karena sekalipun nabi-nabi palsu bisa bermujizat ala kadar, namun tak ada satu makhlukpun yang tahu masa depan, apalagi mengontrol sejarah untuk memenuhi apa yang sudah diucapkan! Nasipnya masa depan hanya ada ditangan Allah! Itu sebabnya Allah sendiri menantang illah-illah selainnya untuk membuktikan “keilahian-diriNya” dengan cara bernubuat :


“Siapakah seperti Aku? Biarlah ia menyerukannya, biarlah ia memberitahukannya dan membentangkannya kepada-Ku! Siapakah yang mengabarkan dari dahulu kala hal-hal yang akan datang?” (Yesaya 44:7)

“Aku memberitahukannya kepadamu dari sejak dahulu; sebelum hal itu menjadi kenyataan, …. supaya jangan engkau berkata: Berhalaku (illah) yang melakukannya” (Yesaya 48:5).


Namun untuk hal yang penting ini bagi suatu kebenaran. Muslim malah membiasakan dirinya acuh dan asing terhadap nubuat. Qur’an praktis tidak berisi nubuat adikodrati kedepan, melainkan sebaliknya banyak didominasi dengan mengungkapkan kisah-kisah masa silam. Sebagai contoh saja ayat yang diperbincangkan disinoi QS 4:157, adalah typikal pewahyuan ke masa silam yang terlambat munculnya, bukan nubuat kedepan yang harus dibuktikan dengan fakta-fakta masa depan.

Bagi kalangan Muslim, ayat diatas dianggap sebagai “wahyu koreksi” terhadap kasus penyaliban Isa yang terlanjur diterima secara keliru. Namun teman Muslim sering lupa bahwa sangkaan “keliru” itu justru pertama-tama harus diusutkan kepada “kelirunya” Allah sendiri dalam bertindak di abad pertama. Bukankah Allah dengan sengaja menipu-daya umat yang menyaksikan penyaliban Isa dengan seorang Isa-gadungan, bagi umat Israel?

Mari kita saksikan apakah “pengkoreksian” demikian itu kokoh sebagai hukum pengkoreksi Allah, ataukah hanya sebuah klaim yang justru perlu “ditafsir-ulang”?.



(a) Absen-nya Novum (Bukti)


Anda tidak akan memprotes suatu kasus yang telah berlalu 6 abad tanpa menyodorkan novum yang kuat dan absah (bukti silam yang baru ditemukan). Jadi “wahyu koreksi” atas penyaliban/kematian masa silam Isa, haruslah disertai novum yang dapat menafikan penyaliban, dan bukan dibenarkan dengan mengajukan klaim atau asumsi baru. Bila Anda tidak percaya nubuat yang tidak tergenapi kedepannya, bagaimana mungkin Anda malah percaya akan wahyu koreksi silam yang tanpa novum ini (padahal kasus yang sudah lewat selalu ada jejak bukti)?.


(b) Siapakah sosok "Isa-isa-an" yang diklaim Qur’an?


Sebab bilamana Allah perlu untuk menegaskan bahwa sosok itu BUKAN Isa, maka Allah setidaknya perlu (dan tentunya mudah) menegaskan SIAPA sosok penggantiNya! Keabsahan satu coin tidak dibentuk oleh satu sisi saja. Mengkoreksi sosok si-asli yang pergi (non-exist) terhadap si-gadungan yang tertinggal (exist) itu bukanlah sebuah koreksi jikalau yang exist itu justru tidak ditampilkan sebagai bukti, malahan juga turut dikosongkan. Apa yang mau dikoreksi jikalau kedua object yang dipersoalkan justro dikosongkan?


(c) Memulihkan suasana keraguan, atau menambahinya?


Suasana yang digambarkan dalam satu ayat Qur’an itu melebihi kekacauan manapun yang pernah diwahyukan. Lihat betapa bertubi-tubinya kata-kata kekacauan yang dilontarkan kesitu “…berselisih paham …benar-benar dalam keragu-raguan …tidak mempunyai keyalkinan …prasangka belakang …tidak (pula) yakin…”

Sangat jelas Allah lewat ayat korektif ini bermaksud untuk memulihkan segala kekacauan ini. Namun dengan metode pengkoreksian Allah yang aneh (6 abad terlambat, ketiadaan jati-diri sosok, tipu daya), maka Allah sebenarnya tidak menepisi, melainkan mempertebal keraguan dan perselisihan yang ingin disingkirkan. Keraguan dapat ditepis dengan menambahi bukti, bukan “pengkoreksian” yang amlah menambahi misteri.


(d) Dan siapa saksi-saksinya?


Siapa selain Allah yang dapat diajukan sebagai saksi atas permainan petak-umpet ini? Jibril? Maryam? Yahya? Serdadu Romawi yang meng-eksekusi? Isa sendiri? Tidak ada di kitab! Bila sebelumnya ada tercium tipu-daya ini, Isa bahkan akan memprotes kepada Allah. Karena hal itu melawan kodratnya yang kudus, selalu berkata benar. Kudus itu tidak mau dan tidak bisa bertipu-daya atau membiarkan dirinya menjadi bagian dan ajang dari tipu daya. Alkitab sama mengatakan “Ia (Yesus) tidak berbuat dosa, dan tipu daya tidak ada dimulutNya” (QS 19:19,34; Yohanes 8:46; 1 Petrus 2:22).

Jadi, apa dan siapa yang telah dibuktikan dan dimantapkan oleh ayat pengkoreksi yang satu itu? Atau, apakah pembuktian korektif model ini dapat dijadikan jurisprudensi untuk mengkoreksi suatu perselisihan?


Top
Profile

BP
Post subject:
PostPosted: Thu Aug 24, 2006 9:54 am
Offline
Merdeka dlm Kristus
Merdeka dlm Kristus
User avatar

Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
Posts: 5497
III. MUSTAHIL ADA WAHYU ALLAH YANG BOLEH KADALUARSA



Pewahyuan-silam ini, telah menempatkan murid-murid Isa, ibuNya dll. Semua menjadi korban, tertipu daya oleh cara Allah SWT yang menggantikan Isa dengan seorang yang diserupakanNya secara tersembunyi. Ketertipuan ini terus berjalan hingga diungkapkan oleh Muhammad (lihat rujukan QS 3:54).
Pertanyaan kita yang saling elementer : “Mengapa Allah baru merasa perlu mengoreksi di abad ke 7 untuk sebuah kasus besar dari abad ke-1?”. Mengapa kadaluarsa 6 abad? Membiarkan bermilyar manusia mati dalam kesesatannya yang terlanjur “menjunjung salib Yesus”, karena belum sempat dikoreksi oleh Allah? Salahkah Ibu Maria, murid-murid Yesus, dan bermilyar pengikutnya, jikalau mereka telah mengimani pengelihatan yang “salah”, karena mata mereka telah disesatkan oleh pembalasan tipu-daya Allah sendiri?

Cara Pembalasan Allah terhadap si penipu itu, sungguh tidak dikenal dalam Alkitab. Namun hal itu, diadopsi, menjadi bagian yang diwahyukan Qur’an sehingga para penterjemah terkesan rikuh dalam memilih dan memakai pelbagai istilah dan gaya yang saling berbeda untuk menterjemahkan kedua ayat berikut ini (perhatian teks bahasa aslinya) :


“Dan mereka itu membuat tipu daya, Allah membalas tipu daya mereka, dan Allah sebaik-baik (pembalas) tipu daya” (and Allah is the best of schemers Moh. Picthall
“Mereka membuat tipu daya, tetapi Allah (juga) membuat membuat tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik pembuat tipu daya” (and Allah is the best of plotters, (QS 3:54; 8:30).


Dalam paham Kristianitas, manusia menipu-daya karena hakekatnya yang jahat dan sumber dayanya terbatas. Namun Allah yang berhakekat Maha Kudus dan tidak terbatas sumber-dayaNya tidak harus terpaksa – bahkan tidak bisa – membalas tipu dengan tipu, apapun konsisi dan alasannya!
Teroris bisa menyandera dan membunuh keluarganya polisi dengan golok, namun polisi tidak bisa membalas keluarga si teroris, apalagi dengan meriam yang menghancurkan pula tetangga, lalu berkata “Rasain lu, saya lebih canggih membunuh kalian, kan?”.

Kristianitas mengimani Allah yang dapat melawan dan menghukum siapa dan apa saja dengan cara yang tak terbayangkan manusia. Namun tidak dapat melawan hakekatNya sendiri “Yang tidak berdusta dan tidak mungkin berdusta”. Dan “Tuhan tidak dapat menyangkal diriNya” (Titus 1:2; Ibrani 6:18; 2 Timotius 2:13).

Allah bisa terang-terangan membela dan memberi kehormatan kepada Isa setinggi-tingginya – dengan menghancurkan palang-salin – sambil mencangking dan menghajar semua musuhNya untuk berlutut di depan kaki Isa!. Namun Kuasa Kebenaran, dan Wibawa-KehormatanNya memustahilkan Dia secara sembunyi-sembunyi memilih menipu daya semua orang, sambil mebiarkan diriNya dipaksa manusia bejad untuk menghentikan masa dakwah nabiNya (Isa) secara prematur. Dengan dilenyapkanNya Isa disitu dan tamat riwayatnya entah bagaimana, bukankah sia-sia seluruh prestasi kenabiannya?
Dan tamat pula seluruh kepercayaan murid-muridnya akan kehebatan dan janji-janji Gurunya. Melainkan menyisakan terecrai-berainya mereka dalam rasa ketakutan, tidak mampu, danpercuma menginjil, karena toh sang Guru sendiri sudah dikalahkan (lihat akhir dari pasal ini).

Kebanyakan Muslim tidak mencoba untuk memahami bahwa sedari dahulu, Allah semesta alam selalu merujuk kepada satu formula penyelamatan manusia, yaitu hidup melalui kematian. Dan kematian Yesus itu mengalahkan MAUT bagi umatNya!
Dulu harga kematian disimbolkan oleh korban sembelihan anak domba; dan kini digenapi oleh pengorbanan Anak Domba Tuhan dalam penyaliban Yesus. Apabila kematian-kurban dari Yesus ini ingin “dibela” dengan cara dihilangkan, maka Ia justru akan kehilangan segala-galanya! :

(1) Hilang lenyap diri Isa, dari murid-murid yang dikasihiNya. Dilenyapkan Allah entah kemana tanpa pra-berita, tanpa pamit, tanpa saksi, tidak terjejaki. Meninggalkan penginjilan secara prematur sebelum berbuah (lihat butir 3)

(2) Hilang lenyap kalimat Isa, Injil dan ajaran-ajaran Isa tidak terjaga di dunia, padahal terjaga di sisi Allah dan tergores kekal di Lauhul-Mahfuz di Sorga. Injil Isa Islami membiarkan hilang lenyap dari dunia entah kemana, tidak terjejaki, sehingga Cuma Injil Palsu karya Paulus cs-lah yang tertinggal, dan kini tersebar ke seluruh pelosok bumi dalam 1000-an bahasa.

(3) Hilang-lenyap Misi Isa bersama dengan semua murid-murid awal Isa (Hawariyyin, para pengikut beriman). Mereka tidak terjaga, terdesak kalah dan hilang semua, disapu oleh murid-murid Paulus dengan ajaran sesatnya yang terus berjaya hingga kini. Padahal Qur’an menjajikan kemenangan bagi murid murid Isa :

“… Pengikut-pengikut (Isa) yang setia itu berkata: "Kamilah penolong-penolong agama Allah", …. maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang.” (QS 61:14)


Tapi dimanakah Injil Isa dan para pengikut-pengikut Isa (Islami) yang menang itu sekarang hilang? HILANG! Hilang segala-galanya disapu habis oleh kuasa nabi-nabi palsu yang dapat melebihi Isa! Total kesia-siaan Isa ini adalah konsekwensi sebab-akibat yang keras, sekali Muslim menolak kematian Kurban Yesus Al-Masih di kayu salib Muslim tahu bahwa Isa adalah sosok yang sempat digelar “Yang terkemuka di dunia dan di Akhirat” dan “datnda yang besar bagi semesta alam”.

Jadi silahkan teman-teman Muslim kini memilih satu diantara dua, Isa yang kehilangan segala-galanya (keberadaan diriNya, Kalimat, Ajaran & KaryaNya); Ataukah Isa yang tersalib dalam kematian kurban demi memberikan kita hidup yang kekal.




Blessings in Christ,
BP
December 4, 2005



Sumber :
Umar Tariqas, Ismael Saudaraku,
Reach Catalog, Cape Town, S. Africa. P 46-79.


Baca pula artikel : NUBUAT PL TENTANG MESIAS TERPENUHI DALAM DIRI YESUS KRISTUS : 30. KEBANGKITAN ,di nubuat-pl-tentang-mesias-terpenuhi-dalam-diri-yesus-kristus-vt2217-20.html#p12167



Mengenai Bantahan Penyaliban, kematian dan kebangkitan Yesus, Silahkan baca di

1. TANGGAPAN ATAS KRITIK TERHADAP PENYALIBAN YESUS 1. , di tanggapan-atas-kritik-terhadap-penyaliban-yesus-1-vt615.html

2. TANGGAPAN : Apa Kristus Tidak Mati Untuk Dosa Manusia, di tanggapan-atas-kritik-terhadap-penyaliban-yesus-3-vt619.html#1414

3. Tuduhan : DISTORSI NUBUAT LUKAS 4: KEBANGKITAN YESUS, di 61-distorsi-nubuat-lukas-4-kebangkitan-yesus-vt728.html#p1693

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar