Kamis, 20 Agustus 2009

Pernikahan Yesus

Dalam kajian berikut ini, kita akan menelusuri kisah Yesus dalam Injil yang dikarang manusia dan telah menjadi kitab pegangan dalam agama Kristen, ternyata dalam kitab tersebut ada ayat yang sangat kuat menunjukkan bahwa Yesus telah menikah dengan seorang wanita mantan pelacur yang telah bertaubat, sehingga doktrin penebusan dosa yang mengharuskan seseorang yang suci dan tidak menikah tidak terpenuhi oleh diri seorang Yesus.

PERBUATAN MANTAN PELACUR
Dalam Injil yang dikarang Lukas pasal 7 ayat 36, dikisahkan, suatu ketika Yesus datang ke rumah Simon memenuhi undangan makan, ketika Yesus dan Simon sedang makan-makan, datanglah seorang wanita mantan pelacur yang sangat terkenal reputasi pekerjaannya sebagai pelacur hendak menemui Yesus.

Wanita tersebut datang menemui Yesus dengan membawa buli-buli pualam yang berisi minyak wangi, sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu.

Simon merasa risih dengan sikap apa yang dilakukan wanita tersebut terhadap Yesus dihadapannya, dalam hatinya Simon berkata :

"Jika Yesus seorang nabi, tentu ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamahnya ini; tentu ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa."

Ungkapan Simon tersebut menggambarkan betapa tidak pantasnya apa yang dilakukan oleh wanita tersebut kepada Yesus, sangat mungkin apa yang dinilai oleh Simon adalah perbuatan tersebut adalah suatu perbuatan yang menyalahi norma yang ada.

Rupanya Yesus sangat bertenggang rasa dan sangat mengerti apa yang ada dalam benak Simon yang mengundangnya, berkatalah Yesus kepada Simon untuk menetralisir apa yang dipikirkan Simon agar Simon tidak berpikiran yang macam-macam :

"Simon, ada yang hendak Kukatakan kepadamu."

"Katakanlah, Guru."

"Ada dua orang yang berhutang kepada seorang pelepas uang. Yang seorang berhutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh. Karena mereka tidak sanggup membayar, maka ia menghapuskan hutang kedua orang itu. Siapakah di antara mereka yang akan terlebih mengasihi dia ?" Tanya Yesus kepada Simon.

"Aku kira dia yang paling banyak dihapuskan hutang-nya." Jawab Simon

"Betul pendapatmu" Kata Yesus membenarkan.

Dan sambil berpaling kepada perempuan itu, Yesus berkata kepada Simon:

"Engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-ku, tetapi dia membasahi kaki-ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya.

Engkau tidak mencium aku, tetapi sejak aku masuk ia tiada henti-hentinya mencium kaki-ku.

Engkau tidak meminyaki kepala-ku dengan minyak, tetapi dia meminyaki kaki-ku dengan minyak wangi.

Sebab itu aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih.

Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia ber-buat kasih."


ISTRI YESUS
Segenap pembaca Kristen dalam membaca kisah tersebut yang terdapat dalam Injil karangan Lukas, tentu akan memahami bahwa sikap perempuan tersebut adalah sikap kasih-nya yang amat sangat kepada Yesus yang telah mengampuni dosa-dosanya.

Tetapi pemahaman ini adalah pemahaman yang terdoktrinasi oleh pengarang Injil dan yang tidak melihat sisi yang lain, misalnya, mungkinkah Yesus membiarkan saja seorang wanita mantan pelacur menjamah dirinya dengan menciumi kakinya dan menyekanya dengan rambutnya sampai-sampai Simon yang ada dihadapannya risih melihat perbuatan perempuan tersebut.

Apakah dibenarkan oleh agama dengan alasan mengasihi orang yang telah mengampuninya dengan menciumi kakinya dan membelai dengan rambutnya dan meminyaki dengan minyak wangi di mana Yesus adalah orang lain dari perempuan tersebut.

Bukankah Yesus pernah bersabda dalam Injil karangan yang lain :

"Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu. Matius 5:28-29

Tentu saja Yesus tidak sekedar memandang perempuan tersebut, melainkan Yesus telah merasakan belaian dan ciuman perempuan tersebut. Kalau perempuan tersebut adalah orang lain dan bukan apa-apa Yesus, tentulah Yesus telah berzinah dan telah melanggar apa yang telah disabdakannya sendiri seperti yang terdapat dalam ayat di atas.

Tentulah, Yesus sebagai seorang nabi utusan Allah, tidak akan membiarkan seorang perempuan jika bukan apa-apanya katakanlah bukan istri Yesus melakukan perbuatan tersebut terhadap diri-nya. Bila kisah itu benar adanya, pastilah perempuan tersebut ada hubungan suami-istri dengan Yesus.

Benarkah perempuan tersebut istri Yesus ?, mari kita telusuri ayat-ayat yang terdapat dalam Bible dan makna tersembunyi yang ada dalam kisah Yesus tersebut.


RITUAL PERNIKAHAN
Di dalam Bible, Kitab Kidung Agung pasal 1:2-4 dikisahkan tentang ritual pernikahan sebagai berikut :

Kiranya ia mencium aku dengan kecupan! Karena cintamu lebih nikmat dari pada anggur,harum bau minyakmu, bagaikan minyak yang tercurah namamu, oleh sebab itu gadis-gadis cinta kepadamu! Tariklah aku di belakangmu, marilah kita cepat-cepat pergi! Sang raja telah membawa aku ke dalam maligai-maligainya. Kami akan bersorak-sorai dan bergembira karena engkau, kami akan memuji cintamu lebih dari pada anggur! Layaklah mereka cinta kepadamu!

Dalam ayat tersebut ada point-point penting :

- Mencium
- Harum bau minyak
- Tariklah aku dibelakangmu

Point-point tersebut adalah khas dalam ritual pernikahan bangsa Yahudi, dan ketiga point tersebut terdapat juga dalam kisah perempuan yang datang menemui Yesus di rumah Simon, mari kita lihat ayatnya :

"Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu." Lukas 7:38

Adanya kesamaan antara yang dilakukan oleh perempuan itu terhadap Yesus dengan ritual pernikahan bangsa Yahudi, sangat kuat mengindikasikan bahwa apa yang sedang dilakukan perempuan itu terhadap Yesus adalah sebagai ritual pernikahan dirinya dengan Yesus.

Bila yang dilakukan perempuan itu terhadap Yesus ditafsirkan sebagai ritual pernikahan, maka hal itu tidak bertentangan dengan sabda Yesus dan hukum Taurat, namun bila yang dilakukan perempuan itu ditafsirkan sebagai kasihnya kepada Yesus karena dosa-dosanya telah diampuni, maka antara Yesus dengan perempuan itu telah terjadi perzinahan karena perempuan itu bukan muhrimnya dan sesuai hukum Taurat harus dihukum mati.

Tidak mungkin dengan alasan apapun Yesus mengizinkan seorang perempuan menciumi dirinya jika perempuan itu bukan istrinya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar