Kamis, 20 Agustus 2009

Mahasiswa Teolog jadi Mualaf gara-gara ketemu muslim pemikir

dan inilah kisahnya,aku Andreas Ibrahim terlahir di keluarga Protestan pada 1965 di Jakarta. Aku selalu pindah rumah dan sekolah mengikuti tempat ayahku dinas sebagai polisi. SMA-ku di Medan.Tahun 1991 pindah ke Jogja. Sekarang tinggal di Ciputat.

Pada 1997 aku kuliah teologi di Jogja. Setahun kemudian, aku sering berdebat dengan para ustadz. Satu-persatu mereka mundur karena kalah beradu argumen denganku. Aku selalu mudah mengalahkan mereka, karena mereka kurang mendalami agamanya apalagi agamaku. Sedangkan aku setiap hari dituntut untuk belajar Alquran dan Bible sebagai bekal mengkristenkan orang Islam. Dalam mempelajari keduanya, banyak kutemukan perubahan dalam Bible tetapi tidak dengan Alquran.

Di negara manapun Alquran dicetak selalu menggunakan bahasa Arab yang sama persis meskipun tahun cetaknya berbeda. Sedangkan Bible, beda tahun terbit beda pula redaksi ayatnya. Misalnya, pada cetakan tahun 1941 dan 1991 disebutkan haram makan babi (Imamat 11:7-8) sedangkan dalam cetakan 1996 dan 2007 di ayat yang sama yang haram itu makan babi hutan. Artinya, kalau yang diternak tidak haram dong!

Aneh, kapan Tuhan meralatnya? Dan banyak kontradiksi lainnya yang mengguncang imanku. Tapi aku belum melirik Islam. Karena aku masih menilai Islam dari apa yang diperbuat oleh umatnya.
Aku menemukan banyak ayat Bible yang bertentangan. Namun selama lima tahun tidak satu pun ustadz yang kutemui dapat meyakinkanku untuk masuk Islam, sampai akhirnya bertemu seorang Muslim pemikir
Mandi Kembang

Tahun 2000 aku ditugaskan ke Madura. Di sana aku bertemu Kyai Imran di Batu Ampar. Ia bicara apa pun aku tak peduli. Karena yang ada dibenakku bagaimana membuat orang lain masuk Kristen. Dia mempersilakan membaca sepuasku di perpustakaan pribadinya.

Mulailah aku tertarik pada Islam, apalagi ketika membaca sejarah Nabi Muhammad SAW menyampaikan ajarannya di Mekah dan penerapan Islam di Madinah. Sampai berkembang pesat memimpin peradaban dunia.

Kucatat informasi penting dari tiap buku yang kubaca. Salah satu bukunya berjudul Islam dari A sampai Z. Buku itu sangat luar biasa bagiku. Membahas masalah ekonomi, sosial, budaya dan lainnya dari sudut pandang Islam dibandingkan dengan sistem di Inggris.

Sepulang dari sana, pada 2001, aku malah kuliah Teologi lagi di Grogol Jakarta. Tahun 2002 kuutarakan keinginanku untuk masuk Islam pada teman Muslimku. Ia mempertemukanku dengan seorang kyai di Pandeglang. Hari Kamis, kami menginap di rumahnya. Aku disuruh mandi kembang pada malam hari sebelum mengucapkan syahadat menjelang Shalat Jum’at.

Kiai itu menyalakan menyan, memotong ayam. Aku disuruh mandi kembang. Dalam hatiku berkata, selama aku belajar Islam tidak ada yang seperti ini. Yang kutahu Rasulullah SAW hanya membimbing syahadat saja. Aku merasa tidak enak untuk menanyakan mengapa ritual ini dilakukan. Maka, ketika ada kesempatan, aku langsung kabur!

Muslim Pemikir

Pada 2 Agustus 2003, aku berkenalan dengan Budiman Sitompul. Ketika kutahu dia orang Islam, kuutarakan masalahku. Ia berjanji akan mempertemukanku dengan seorang ustadz yang tanpa ritual aneh seperti itu. Tiga hari kemudian, kami dipertemukannya.

”Saya Wayuman Wongso seorang Muslim Pemikir,” ujar ustadz yang lebih senang disebut Abu Hisan itu. ”Puji Tuhan, aku dipertemukan dengan Muslim pemikir dan saya Andreas Abraham, seorang Kristen pemikir juga,” kataku. Kami pun berdiskusi. Dia menerangkan Islam mirip sekali dengan buku-buku yang kubaca di Madura itu.

Kemudian dia pun berkata, ”Tapi maaf, bila Anda melihat kondisi umat Islam saat ini, Anda jangan langsung menganggap konsep Islam salah. Sebab sejak keruntuhan kepemimpinan Islam di Turki umat Islam menjadi tercerai berai seperti ini”. Ia pun menjelaskan panjang lebar tentang akidah Islam dan kontinyuitas kepemimpinan sejak Rasul hijrah ke Madinah sampai runtuhnya Khilafah di Turki.

Aku langsung teringat perkataan dosen lintas agama Edwyin Luiskul ketika mengisi kuliah di Grogol. Ia bilang, jangan takut kepada orang Islam meskipun mereka mayoritas dalam jumlah tetapi minoritas dalam peranan. Karena mereka tidak memiliki ikatan kemimpinan. Islam akan kembali menjadi raksasa yang kuat bila satu ikatan kepemimpinan.

Aku dan Abu Hisan pun berdiskusi setiap hari. Namun pada hari Kamisnya aku diundang gereja untuk memberikan siraman rohani di salah satu hotel di Jakarta. Tentu saja dalam hatiku terjadi konflik batin. Tidak mungkin aku menolaknya karena itu salah satu tugasku sebagai pendeta.

Untuk itu aku digaji setiap bulan. Ditambah perlengkapan dan keperluan rumah tangga, pendidikan anak-anakku, semua biaya berobat aku dan anak istriku ditanggung gereja. Bila aku sampaikan tekadku untuk masuk Islam, jelas aku akan kehilangan itu semua.

Pulang dari hotel, aku sangat gelisah. Maka aku langsung menemui Muslim pemikir itu. Kuceritakan semua. Dia malah curhat padaku, tetapi justru itulah yang membuatku bertekad bulat untuk memeluk dan mendalami Islam. Dia berkata bahwa dia itu tadinya seorang pengacara, mendapatkan uang banyak, tapi hidupnya menderita. Karena dia, mau tidak mau, harus membela klainnya yang bersalah.

Ia pun meninggalkan pekerjaannya setelah bertobat berbalik pada kebenaran konsep Islam yang ia dapatkan dari aktivis Islam yang mengontaknya. “Alhamdulillah saya sekarang bisa bersyukur apa adanya, senang dakwah mengajak umat Islam menerapkan syariat Islam,” ujarnya.

Aku semakin yakin orang inilah yang kucari, aku teringat ucapan dosen lintas budaya Rambadeta di Grogol. Ia mengatakan Islam itu syariat, syariat itu Islam. Jadi jangan sampai umat Islam menerapkan syariat. Karena hal itu akan menjadikan umat Islam kembali menjadi raksasa dan kita semut!

Sejak itu aku bertekad bulat untuk memilih Islam apapun risikonya dan turut berjuang agar umat Islam kembali menjadi raksasa. Maka esoknya, sebelum shalat Jum’at, dengan disaksikan tokoh masyarakat Serua Ciputat, aku dibimbing Muslim pemikir itu untuk bersyahadat. Alhamdulillah.[] joko prasetyo/mediaumat

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar